Selasa, 18 Oktober 2022

Simplisia Yang Mengandung Karbohidrat

Sebagai zat aktif, keberadaan karbohidrat di dalam tanaman sangat luas karena peranannya sebagai penghasil energi. Sebagai senyawa tunggal, karbohidrat terkelompok menjadi berbagai golongan dan masing-masing golongan dibedakan lagi berdasarkan bentuk-bentuk gugus fungsional yang bisa mereduksi atau tidak mereduksi seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya.

A. SIMPLISIA KARBOHIDRAT

1. Monosakarida

a. Glukosa

Nama lainnya adalah dekstrosa atau alfa –D-(+)-glukopiranosa, atau D-glukosa adalah gula yang biasanya diperoleh dengan hidrolisis dari amilum. Dekstrosa mengandung satu molekul air atau anhidrat dengan rumus umum C6H12O6.H2O. Dekstrosa merupakan nama farmasi yang umum dan biasa digunakan dalam perdagangan dan industri. Namun demikian, nama ilmiah yang lazim digunakan dalam kepustakaan kimia dan biokimia adalah glukosa.

Secara alami glukosa terdapat dalam buah anggur (20-30%), buah juniperi (sampai 4%), ceri, stroberi, bluberri dan buah-buahan lain. Glukosa dapat pula diperoleh dengan cara hidrolisis glukosida alami tertentu. Dalam skala industri, glukosa dibuat dengan hidrolisisi amilum dengan asam encer. Setelah dihidrolisisi, asam dinetralkan dengan natrium karbonat dan warna larutan dihilangkan lalu diuapkan dalam hampa udara sampai menjadi sirup (liquid glucose). Dengan proses hidrolisisi yang terjadi tidak secara sempurna maka di dalam larutan tersebut tidak hanya mengandung glukosa saja, tetapi juga berisi disakarida, trisakarida, dan tetrasakarida.

Glukosa berupa kristal monohidrat. Glukosa larut dalam air dan rasa manisnya lebih rendah 25% dibandingkan dengan gula sukrosa (gula pasir). Glukosa digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh, pemasok karbon dalam sintesis protein dalam tubuh, penghambat kristalisasi. Glukosa juga merupakan bahan penting dalam industri fermentasi, industri pasta gigi, industri penyamakan, sepuh cermin perak (silvering mirror), pembuatan kembang gula, es krim, dan lain-lain. Dalam farmasi, glukosa digunakan dalam larutan antikoagulan untuk menyimpan darah, sebagai makanan yang dimasukkan secara oral, enema, injeksi sub-kutan dan intravena. Glukosa juga digunakan sebagai pengganti laktosa. Contoh sediaan farmasi glukosa yang digunakan dalam pengobatan antara lain adalah sebagai injeksi dekstrosa, injeksi dekstrosa dan natrium klorida, karutan antikoagulansia dekstrosa, natrium sitrat dan asam sitrat, sirup hipofosfit, tablet dekstrosa dan natrium klorida, injeksi bismuth.

b. Madu (Mel depuratum)

Madu (honey, clarified honey, strained honey) adalah penggetahan gula sakarida yang dikumpulkan dalam indung madu oleh lebah Apis mellifera Linne (famili Appidae). Madu terbentuk dengan cara inversi sukrosa yang dikumpulkan oleh lebah dari nektar bunga.

Sumber madu adalah Apis, atau dalam bahasa latin yang berarti tawon atau lebah, sedangkan mellifera berasal dari dua suku kata latin yang artinya membawa madu. Lebah hidup secara berkelompok yang terdiri dari 10-50.000 individu. Kelompok ini berkumpul membentuk sarang.

Madu merupakan cairan kental seperti sirup, berwarna cokelat kuning muda sampai cokelat merah. Pada waktu masih segar, warna madu bening, tetapi lama-kelamaan menjadi keruh berbutir-butir karena terjadinya kristal dekstrosa. Madu memiliki bau khas, rasa manis dan sedikit getir. Bau dan rasa madu bermacam-macam, tergantung jenis bunga atau nektar, secara mikroskopi, madu menunjukkan adanya butir-butir serbuk sari yang dapat menjadi petunjuk terhadap bunga-bunga asal atau sumbernya.

Kandungan dari madu adalah campuran dekstrosa dan fruktosa dengan jumlah yang sama dan dikenal sebagai gula invert, 50-90% dari gula yang tidak terinversi dan air. Madu juga mengandung 0,1-10% sukrosa dan sejumlah kecil karbohidrat lain, minyak atsiri, pigmen, mineral serta bagian tanaman, terutama butir serbuk sari.

Madu digunakan sebagai bahan pembantu dalam farmasi karena mempunyai sifat-sifat bahan makanan dan demulsen. Madu juga digunakan sebagai bahan pembawa, sama seperti sirup, meskipun madu mempunyai daya kerja pencahar lebih kuat daripada sirup. Madu biasa dipalsukan dengan gula invert buatan, sukrosa, dan glukosa cair perdagangan. Madu dapat pula dipalsukan dengan cara gula invert buatan, sukrosa, dan glukosa cair perdagangan. Madu dapat pula dipalsukan dengan cara pemberian suatu asupan kepada lebah berupa larutan gula sukrosa yang bukan berasal dari nektar. Pemeriksaan kandungan sakarosa, aktivitas enzim diastase, kadar furfural dan adanya sisa asam. Periksa juga keberadaan dan jenis polen. Syarat madu (diringkas dari S II 0156-88 dan Ekstra Farmakope Indonesia 1974), secara organoleptik merupakan khas madu, kadar air maksimum 25%, gula pereduksi minimum 60%, sukrosa maksimum 10%, aktivitas enzim diastase minimum 3 unit Gothe DN, hidroksi metil furfural maksimum 40 mg/kg, keasaman maksimum 40 ml NaOH 1 N per kh. Kadar padatan maksimum 0,5%, kadar abu maksimum 0,5%, desktrin maksimum 0,5%, asam benzoat negatif. Dalam sediaan farmasi, madu biasa digunakan dalam sediaan cair obat batuk.

c. Sorbitol

D-Sorbitol (sorbit/D-glusitol) merupakan gula alkohol yang terdapat pada buah Sorbus aucuparia (Rosaceae) dan sedikit dalam air kelapa (Cocos nucifera). Digunakan untuk pemanis pada sediaan diet dan pasta gigi. Sorbitol hanya sedikit yang diabsorpsi dan sulit dimetabolisme sehingga nilai kalorinya lebih rendah dari glukosa. Secara industri, sorbitol dibuat dengan mereduksi glukosa. Pemakaian sorbitol lainnya adalah sebagai pelembap pada sediaan kosmetik dan pembentuk gel transparan.

2. Disakarida

a. Sukrosa

Sukrosa adalah gula yang diperoleh dari batang tanaman Saccharum officinarum Linn., famili Graminae atau dari umbi Beta vulgaris Linne, famili Chenopodiaceae atau dari sumbersumber lain dan tidak mengandung bahan tambahan. Sukrosa mempunyai rumus molekul C12H22O11. Berbeda dengan disakarida lain, sukrosa tidak mereduksi. Lagipula (+)-sukrosa tidak membentuk osazon, tidak terdapat dalam bentuk anomer dan dalam larutan tidak menunjukkan mutarotasi. Semua kenyataan ini menunjukkan bahwa sukrosa tidak mengandung gugus aldehida atau gugus keton yang bebas. Bila dihidrolisis dengan asam encer atau karena daya kerja enzim invertase (dari ragi), akan menghasilkan jumlah yang sama D(+)-glukosa dan D(-)-fruktosa. Hidrolisis disertai dengan penggantian tanda rotasi dari positif menjadi negatif. Ini pula sebabnya hidrolisis ini disebut inversi dari (+)-sukrosa, sedangkan campuran (+)-glukosa dan D(-) fruktosa yang memutar bidang polarisasi ke kiri disebut gula invert. Sebagai komponen dari sukrosa, D(+)-glukosa dan D(-)-fruktosa yang rotasinya berlawanan arah ke kanan dan ke kiri biasa disebut dekstrosa dan levulosa. Sukrosa juga disebut saccharum atau gula dan tersebar luas dalam tanaman. Secara komersial gula dibuat dari tebu atau bit, dapat pula diperoleh dari maple (Acer saccharum, famili Aceraceae), dari berbagai palem dan sumber lain. Untuk membuat sukrosa, batang tebu digiling atau diiris-iris, disarikan dengan air, lalu sarinya dimurnikan dengan pemanasan bersama-sama dengan kapur yang akan menetralkan asam (suasana larutan yang asam cenderung menghidrolisis sukrosa) dan membantu mengendapkan protein. Kelebihan kapur dihilangkan dengan karbondioksida. Selanjutnya, cairan tersebut diuapkan di dalam hampa dan gula dibiarkan mengkristal. Cairan induk (mother liquid), molase (tetes), merupakan sumber karbo yang penting dan murah untuk bahan baku industri fermentasi, antara lain sebagai bahan baku vetsin (penyedap masakan). Sukrosa dalam batang tebu atau umbi bit tidak dihidrolisis karena batang dan umbi akar tersebut tidak mempunyai alfa-glukosidase dan beta-fruktosidase. Dari segi kalori, tidak ada tanaman pertanian lain yang menghasilkan jumlah kalori lebih besar daripada tebu dan bit. Tebu dan bit dapat menghasilkan 17 juta kalori per hektar. Sebagai perbandingan, gandum hanya menghasilkan 5 juta kalori per hektar. Sukrosa berupa kristal berbentuk kubus, tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis, stabil di udara, bereaksi netral terhadap lakmus, mudah larut dalam air, dan agak sukar larut dalam alkohol. Pada bidang farmasi, sukrosa digunakan untuk menutupi rasa obat (memberi rasa manis). Dalam kadar yang lebih tinggi dari 60%, sukrosa bisa berfungsi sebagai bahan pengawet karena tekanan osmosenya tinggi sementara tekanan uapnya rendah. Itulah sebabnya sirup asli yang terbuat dari bahan gula tidak diperlukan pengawet. Gula sukrosa sering dipakai sebagai bahan pemicu fermentasi etanol, butanol, gliserol, asam sitrat, dan asam levulinat. Sukrosa juga mampu menambah kelarutan beberapa senyawa yang sukar larut dalam air, untuk bahan penyalut tablet, serta bahan pembantu pembuatan granulasi. Sukrosa penting sebagai bahan makanan dan juga sebagai pemanis. Namun, sukrosa tidak boleh dikonsumsi oleh para penderita diabetes. Dalam saluran pencernaan, sukrosa tidak diserap sebelum mengalami hidrolisis oleh enzim invertase menjadi glukosa dan fruktosa. Oleh karena invertase tidak terdapat dalam sel tubuh binatang, maka bila binatang disuntik dengan sukrosa, maka sukrosa yang keluar dari dalam urin masih dalam keadaan tidak diubah. Beberapa contoh sediaan farmasi sukrosa adalah sirup USP, BP, NF dan sirup kompleks.

b. Laktosa

Laktosa atau gula susu adalah gula yang diperoleh dari susu. Gula ini dikristalkan dari air dadih (whey) yang diperoleh dari hasil samping pembuatan keju. Kristal yang tidak murni ini dilarutkan kembali dalam air, dihilangkan warnanya dengan karbo adsorben dan dikristalkan kembali. Laktosa adalah bahan makanan dan bahan farmasi. Laktosa tidak berbau dan rasanya agak manis. Laktosa stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau, larut dalam air, sedikir larut dalam etanol dan tidak larut dalam kloroform. Laktosa mempunyai rumus molekul C12H22O11, merupakan gula yang mereduksi, mampu membentuk osazon, terdapat dalam bentuk alfa dan beta serta mengalami mutarotasi. Apabila diberi asam sulfat atau diberi emulsin (hanya memecah hubungan beta saja) maka laktosa akan terurai dan berubah menjadi D(+)-glukosa dan D(+)-galaktosa dalam jumlah yang sama. Jadi, laktosa adalah suatu beta glukosida yang terbentuk karena penggabungan satu molekul D(+)-glukosa dan D(+)-galaktosa. Dari hasil hidrolisis laktosazon dan asam laktobionat dapat disimpulkan bahwa laktosa merupakan galaktosida bukan glukosida. Sementara gugus yang mereduksi adalah gugus glukosa bukan galaktosa. Laktosa dapat dihidrolisis dengan enzim spesifik, yaitu laktase, tetapi tidak dapat dihidrolisis oleh maltase, sukrase atau diastase. Laktosa juga berbeda dengan gula lain karean laktosa sangat mudah mengalami fermentasi membentuk asam laktat dan asam butirat. Oleh karena sifatnya yang inert, maka laktosa sering digunakan sebagai bahan pengencer tablet, pengencer obat keras (opium), dan pengencer obat lainnya. Laktosa kurang manis dibandingkan dengan sukrosa, tetapi lebih mudah dihidrolisis. Laktosa digunakan sebagai bahan makanan untuk bayi dan berguna untuk memelihara mikroflora usus sebab merupakan substrat yang baik bagi laktobasili. Laktosa juga mudah diubah menjadi asam laktat oleh Lactobacillus bulgaricus dan ini pulalah antara lain yang menyebabkan susu bisa berasa asam. Produk yang mengandung laktosa antara lain Saccharated Ferroud Carbonat NF dan Ipecac and Opium Powder NF, BP dan susu lembu juga merupakan sumber laktosa.

3. Polisakarida

a. Amilum

Barangkali tidak ada satu senyawa organik lain yang tersebar begitu luas sebagai kandungan tanaman seperti halnya amilum. Dalam jumlah yang besar, amilum dihasilkan dari dalam daun-daun hijau sebagai wujud penyimpanan sementara dari produk fotosintesis. Amilum juga tersimpan dalam bahan makanan cadangan yang permanen untuk tanaman, dalam biji, jari-jari teras, kulit batang, akar tanaman menahun dan umbi. Amilum merupakan 50-65% berat kering biji gandum dan 80% bahan kering umbi kentang. Amilum berbentuk granul atau butir-butir kecil dengan lapisan-lapisan yang karakteristik. Lapisan-lapisan ini serta ukuran dan bentuk granul seringkali khas bagi beberapa spesies tanaman sehingga dapat digunakan untuk penentu identitas tanaman asalnya.

Tanaman yang mengandung amilum, digunakan dalam farmasi seperti Zea mays (jagung), Oryza sativa (beras), Solanum tuberosum (kentang), Triticum aesticum (gandum), Ipomoea batatas (ketela rambat) dan Manihot utilissima (ketela pohon).

Secara umum, amilum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa) dan 80% bagian yang tidak larut air (amilopektin). Pada bidang farmasi, amilum terdiri dari granul-granul yang diisolasi dari Zea mays (Graminae), Triticum aesticum (Graminae), dan Solanum tuberosum (Solanaceae). Granul amilum jagung berbentuk poligonal, membulat dan sferoidal dan mempunyai garis tengah 35 mm. Amilum gandum dan kentang mempunyai komposisi yang kurang seragam, masing-masing mempunyai dua tipe granul yang berbeda. Pada bidang lain, amilum digunakan sebagai bahan perekat kertas, perekat pakaian, sebagai kanji untuk pakaian dan penggunaan lain. Amilum juga digunakan sebagai bahan pemula dalam pembuatan glukosa cair, dektrosa, dan dekstrin. Amilum adalah pelengkap nutrien, demulsen, absorben, dan protektif. Sediaan amilum yang terdapat dalam pasaran adalah Volex.

b. Gum dan musilago

Gum merupakan hidrokoloid tanaman yang digolongkan menjadi garam-garam dari polisakarida anionik dan nonionik. Senyawa ini berupa massa amorf bening yang seringkali dihasilkan oleh tanaman tinggi sebagai penutup luka setelah pohon dilukai. Hidrokoloid juga terdapat di dalam kecambah biji atau bagian tanaman oleh jasad renik tertentu. Oleh karena sifatnya hidrofilnya, sejumlah turunan selulosa semisintetik yang digunakan dapat dianggap sebagai gum hidrokoloid yang bersifat khusus. Komposisi penyusun gum adalah heterogen dan khas. Pada hidrolisis, biasanya terurai menjadi arabinosa, galaktosa, glukosa, manosa, ksilosa, dan berbagai asam uronat. Asam uronat mungkin membentuk garam dengan kalsium, magnesium, dan kation yang lain. Substituen metil eter dan ester sulfat lebih jauh akan mengubah sifat hidrofilnya. Pada bidang farmasi, gum dipakai untuk berbagai keperluan antara lain sebagai komponen perekat gigi atau perekat lain, pencahar, pengikat tablet, emulgator, bahan penggelatin, bahan pensuspensi, bahan pengental, dan stabilizer. Bila terjadi masalah dalam penggunaan hidrokoloid biasanya disebabkan timbulnya perubahan hidrasi dari polimer, misalnya gum akan mengendap dari larutannya karena penambahan etanol dan atau larutan timbal sub-asetat. Musilago dan gum dibedakan atas dasar bahwa gum mudah larut dalam air, sedangkan musilago tidak larut, tetapi membentuk massa yang berlendir.

c. Gum Arab ( gum akasia)

Gum arab merupakan eksudat dari ranting Acacia senegal (Fabaceae) yang dilukai. Cabang atau ranting dilukai sampai kambium, eksudat yang keluar dibiarkan mengering kemudian dipanen setelah 30 hari. Gum arab diperdagangkan dalam bentuk serpihan atau butiran berwarna putih kekuningan dan tidak berbau.

Gum arab tersusun dari arabin yang merupakan garam kalsium, kalium atau magnesium dari asam arabat. Asam arabat jika dihidrolisis akan menghasilkan L-arabinosa, D-galaktosa, asam D-glukoronat dan L-ramnosa. Selain itu juga mengandung enzim-enzim oksidase, peroksidase dan pektinase yang dapat menimbulkan masalah pada penggunaannya. Berfungsi sebagai stabilisator emulsi, pengenyal lozenges dan permen (juga untuk mencegah pengkristalan gula). Larutan gum arab memiliki viskositas yang rendah dan stabil pada jangkah pH 2-10 serta tidak diendapkan oleh alkohol kurang dari atau sama dengan 60%.

d. Gum Tragakan

Gum tragakan merupakan eksudat yang keluar dari cabang Astragalus spp. (A.gummifer, A.kurdicus, A.brachycalyx, famili dari Fabaceae) yang dilukai. Negara penghasilnya adalah Persia, Siria dan Afganistan. Tragakan diperdagangkan dalam bentuk keping-kepingan semi transparan, berwarna putih sampai putih kekuningan. Tragakan tersusun dari komponen larut air yang disebut tragakantin dan komponen tidak larut air yang disebut basorin. Keduanya merupakan polimer dari asam galakturonat, galaktopiranosa, arabfuranosa dan lain-lain. Tragakantin tidak mengandung gugus metoksi sedangkan basorin mengandung 5-35% gugus metoksil. Tragakan mengembang dalam air, namun hanya sedikit yang larut. Berfungsi sebagai bahan pengemulsi, pengikat tablet dan untuk industri tekstil.

4. Pektin

Pektin diperoleh dari ampas perasan buah apel (mengandung pektin 15-20% berat kering) dan sari kulit buah jeruk (mengandung pektin 20-30% berat kering). Ampas apel dihidrolisis pada suhu 60-90⁰C dengan derajat keasaman tertentu (pH 2,5). Pektin yang dihasilkan dipisahkan dengan sentrifugasi. Pektin alam terdapat dalam bentuk serbuk halus sampai kasar, warna putih kekuningan, hampir tidak berbau dan berlendir. Pektin larut dalam 20 bagian auir, larutannya kental, keruh, koloidal, dan asam (terhadap lakmus). Satu bagian pektin dipanasi dengan 9 bagian air membentuk gel yang liat.

Pektin berasal dari bahasa Yunani yang artinya membeku atau mengental. Senyawa ini ditemui pada dinding sel jaringan seluruh tanaman yang berfungsi sebagai perekat interseluler. Merupakan campuran dari metil ester galakturonat, galaktan dan araban yang diperoleh dari hasil hidrolisis protopektin. Protopektin merupakan komponen lamela tengah dan dinding primer sel tumbuhan. Protopektin ini tidak larut air, tetapi akan diubah dan larut bila dibiarkan dalam air mendidih di bawah tekanan.

Kegunaannya terutama untuk industri makanan (es krim, selai dan sirup) serta untuk suplemen fiber dan obat diare.


B. HASIL PENYARIAN RUMPUT LAUT

1. Agar

Penghasilnya adalah ganggang merah (Rhodophyceae) antara lain: Gelidium amansii, Gelidium cartilagenum (Geladiaceae), Pterocladi sp (Gelidiaceae), Gracilaria confervoides (Gracilariaceae). Ganggang dipanen dari ganggang liar atau dari hasil budidaya. Negara penghasil utama adalah Jepang dan Amerika.

Agar terdiri dari campuran agarosa dan agaropektin. Agarosa merupakan polimer galaktosa yang netral sedangkan agaropektin merupakan polisakarida tersulfonasi (polimer dari galaktosa dan galakturonat yang teresterisasi sulfat)

Bersifat tidak larut dalam air dingin tapi larut dalam air panas. Pemanasan 0,5-1% agar akan menghasilkan gel pada pendinginan dan pH larutan 1% adalah 2.

Berfungsi untuk mengatasi konstipasi kronik dan sebagai media kultur. Agarosa digunakan untuk elektroforesa dan kromatografi. Pemakaian lainnya adalah untuk makanan.

2. Karagen

Nama lainnya adalah chondrus, irish moss. Karagen atau karaginan adalah istilah yang diberikan untuk hidrokoloid yang sekerabat dekat dengan yang diperoleh dari bermacammacam ganggang merah atau gulma laut. Sumber utama untuk karaginan adalah Chondrus crispus Linne dan Gigartina mamillosa (Gigartinaceae). Secara fisik, karaginan dan agar hampir sama. Adapun perbedaan sifat kimianya adalah karaginan mengandung ester sulfat yang tinggi. Karaginan dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen yang meliputi kkaraginan, i-karaginan, dan l-karaginan. K-karaginan dan i- karaginan cenderung berorientasi terpilin yang stabil bila dalam larutan, tetapi l-karaginan tidak. Jadi k-dan i-karaginan merupakan pembentuk gel yang baik dan l-karaginan lebih berfungsi sebagai pengental.

Karaginan banyak digunakan untuk pembentuk gel dan memberikan stabilitas kepada emulsi dan suspensi. Ini dikarenakan adanya susuanan yang teguh dan kemampuan pembersih yang baik dari hidrokoloid, terutama untuk formulasi pasta gigi. Karaginan juga cocok untuk demulsen, pencahar dan komponen pembantu dalam sediaan makanan.

3. Algin (natrium Alginat)

Merupakan polimer dari asam D-manuronat dan asam L-glukuronat. Penghasilnya adalah ganggang coklat (Laminaria digitata dan Macrocystis pyrifera dari famili Lessoniaceae). Algin tidak berasa dan tidak berbau. Larut mudah dalam air membentuk koloid yang kental. Biasanya digunakan untuk pengemulsi dalam industri es krim, permen coklat dan lain-lain

a. Plantaginis semen (Psillium seed)

Merupakan biji dari Plantago psillium, Plantago ovata dan Plantago indica (Plantaginaceae). Bentuk yang paling banyak diperdagangkan adalah husk (sekam) dari biji Plantago. Biji Plantago mengandung 10-30% hidrokoloid yang terletak pada bagian luar kulit biji. Hidrokoloid tersebut dapat dipisahkan menjadi fraksi polisakarida netral dan polisakarida asam. Biasanya digunakan untuk suplemen dietary fiber dan bulk laksative dan harus disertai dengan banyak minum air.

b. Suplemen fiber

Fiber adalah komponen dinding sel tumbuhan yang tidak tercerna. Fiber tersusun dari berbagai jenis karbohidrat dan lignin. Fiber dapat dikelompokkan menjadi yang larut air, yang terdiri dari pektin, gom. Yang tidak larut air yang tersusun dari selulosa dan hemiselulosa. Sumber terbaik untuk fiber larut air untuk tujuan non laksan adalah psilium, gum guar, glucommanan, gum karaya dan pektin. Fiber dapat mengikat asam empedu sehingga menurunkan kadar kolesterol dan LDL (low density lipoprotein). Sedangkan HDL (high density lipoprotein) tetap tidak berubah. Fiber juga memperlambat pengosongan lambung sehingga mengurangi laju peningkatan kadar gula darah, memperlama rasa kenyang serta menyempurnakan pencernaan. Selain itu, fiber juga mempercepat laju pengosongan usus besar sehingga mengurangi resiko kanker kolon. Fiber dapat menyebabkan konstipasi jika tidak disertai minum air yang banyak. Sumber fiber banyak terdapat pada bahan makanan nabati seperti sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

RINGKASAN

Contoh karbohidrat jenis monosakarida adalah glukosa, madu, sorbitol, manitol, xylitol. Untuk jenis disakarida contohnya adalah sukrosa, laktosa. Untuk contoh polisakarida ada amilum, gum dan musilago, pektin. Selain itu hasil penyarian laut yang meliputi agar, karagen dan algin. Contoh lainnya adalah Plantaginis semen dan suplemen fiber. Semuanya mempunyai manfaat yang penting dalam bidang kefarmasian. Seperti halnya amilum, yang digunakan sebagai bahan pengisi tablet, bahan pengikat dan bahan penghancur.

 

LATIHAN SOAL

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi pembelajaran di atas, kerjakanlah latihan berikut!

1) Jelaskan bagaimana cara membedakan gula asli dengan gula palsu!

2) Apa saja kandungan dari madu?

3) Mengapa pektin disebut sebagai bahan hidrokoloid?

4) Apa tanaman penghasil mannitol?

5) Apakah fiber itu?

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Syarat madu asli (diringkas dari S II 0156-88 dan Ekstra Farmakope Indonesia 1974), secara organoleptik merupakan khas madu, kadar air maksimum 25%, gula pereduksi minimum 60%, sukrosa maksimum 10%, aktivitas enzim diastase minimum 3 unit Gothe DN, hidroksi metil furfural maksimum 40 mg/kg, keasaman maksimum 40 ml NaOH 1 N per kh. Kadar padatan maksimum 0,5%, kadar abu maksimum 0,5%, desktrin maksimum 0,5%, asam benzoat negatif.

2) Kandungan dari madu adalah campuran dekstrosa dan fruktosa dengan jumlah yang sama, air. Madu juga mengandung 0,1-10% sukrosa dan sejumlah kecil karbohidrat lain, minyak atsiri, pigmen, mineral serta bagian tanaman, terutama butir serbuk sari.

3) Pektin merupakan campuran dari metil ester galakturonat, galaktan dan araban yang diperoleh dari hasil hidrolisis protopektin. Sementara itu, protopektin ini bersifat tidak larut air, tetapi akan diubah dan larut bila dibiarkan dalam air mendidih di bawah tekanan yang menjadikan pektin bersifat hidrokoloid.

4) Manitol terdapat dalam ‘manna yang merupakan getah/eksudat dari Fraxinus ornus, familia Oleaceae.

5) Fiber adalah komponen dinding sel tumbuhan yang tidak tercerna

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Selulosa diperoleh dari….

A. Ekstraksi daun

B. Ekstraksi biji

C. Bantuan larutan perak

D. Bantuan larutan tembaga

E. Bantuan larutan kloroform

2) Sifat selulosa adalah sebagai berikut, kecuali….

A. Selulosa mudah dihidrolisis

B. Hidrolisis akan terjadi pada suhu tinggi, tekanan tinggi dan kadar asam rendah

C. Hidrolisis akan terjadi pada suhu tinggi, tekanan tinggi dan kadar asam tinggi

D. Hidrolisis akan terjadi pada suhu rendah, tekanan tinggi dan kadar asam tinggi

E. Hidrolisis akan terjadi pada suhu rendah, tekanan rendah dan kadar asam rendah

3) Berikut merupakan perbedaan musilago dan gum, kecuali….

A. Musilago mudah larut dalam air

B. Gum sukar larut dalam air

C. Musilago membentuk lendir

D. Gum membentuk lendir

E. Gum berbentuk larutan yang jernih

4) Berikut merupakan tanaman penghasil amilum yang banyak digunakan dalam bidang kefarmasian, kecuali….

A. Zea mays

B. Solanum tuberosum

C. Ipomoea batatas

D. Manihot utilissima

E. Andrographis paniculata

5) Apabila amilum bereaksi dengan iodium menghasilkan hasil yang positif akan memberikan perubahan warna….

A. Hijau

B. Ungu

C. Merah muda

D. Kuning

E. Jingga

 

 

0 comments:

Posting Komentar