Selasa, 10 Maret 2015

Makalah Emosi

Emosi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Masa remaja dianggap sebagai  “badai dana tekanan”,  suatu  masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan social dan menghadapi kondisi baru. Sedangkan selama masa kanak-kanak iya kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan tersebut.
Emosi remaja sering kali sangat kuat, tidak terkendali dan tampaknya irasional. Namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu, sebagai konsekuensi dari usaha  penyesuaian diri terhadap lingkungan, tetapi pada umumnya dari tahun ke    tahun terjadi perbaikan prilaku emosional pada diri setiap remaja.
Emosi yang kuat dan meledak-ledak dapat dikendalikan agar hati dan pikiran menjadi tentram dan iklas. Jika ini dilakukan terus-menerus berarti kita sedang mennyusun dan membangun  kekuatan yang baik pada otak dan jiwa kita.
Sedangkan jika kita marah , benci, dendam, dan jengkel secara terus-menerus berarti kita sedang merusak otak dan jiwa seperti halnya yang dilakukan oleh kanker dan tumor otak.
Jika kita sudah biasa memelihara emosi positif, maka kejadian atau sesuatu yang menjengkelkan sekalipun, titak akan membuat kita bereaksi negatif. Tetapi sebaliknya jika kita secara sadar atau tidak sadar memelihara emosi yang negatif, maka kejadian-kejadian kecil yang menjengkelkan akan membuat kita bereaksi tak terkendali. Bahkan, kadang kita salah memaknai informasi.

B.     RUMUSAN MASALAH
1)      Pengertian emosi
2)      Pembagian emosi berdasarkan nilai positif dan negatif
3)      Cirri emosional remaja
4)      Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi
5)      Cara pengendalian emosi

C.    TUJUAN PENULISAN
      Makalah ini kami buat untuk menjelaskan dan memperoleh pemahaman secara lebih dalam tentang pengertian emosi, macam-macam dan cara pengendalian emosi pada setiap individu. Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai emosi yang terdapat pada diri kita dan bisa mengekspresikan emosi pada tempat yang benar dan tepat.


BAB II
PEMBAHASAN

            Menurut English and English, emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activies” (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan “setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna efektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam)”.

A.1.  PENGERTIAN EMOSI
       Emosi adalah istilah yang digunakan untuk keadaan mental dan fisiologis yang berhubungan dengan beragam perasaan, pikiran, dan prilaku. Emosi adalah pengalaman yang bersifat subjektif, atau dialami berdasarkan sudut pandang individu. Emosi berhubungan dengan konsep pisikologi lain seperti suasana hati, tempramen, kepribadian dan disposisi.
              Kata “emosi” diturunkan dari bahasa Perancis, emotion, dari emouvoir, “kegembiraan” dari bahasa lati emovere, dari e-[varian eks-] “luar” dan movere “bergerak”. Motivasi juga diturunkan dari movere.
Jenis emosi : -Cinta, perasaan, bangga, sifas, benci, terkejut, takut suasana hati.

A.2.  MACAM-MACAM EMOSI
·         Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), sorrow (sedih, duka), wonder (heran), love (cinta) dan joy (kegembiraan).
·         Menurut JB. Watson, 3 macam emosi : fear (ketakutan), rage (kemarahan), love (cinta).
·         Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan macam-macam emosi yang tidak jauh berbeda dengan kedua tokoh diatas yaitu:
a.       Amarah  : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati.
b.      Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa.
c.       Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri.
d.      Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, senang, terhibur, bangga.
e.       Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih.
f.       Terkejut : terkesiap, terkejut.
g.      Jengkel : hina, jijik, mual, tidak suka.
h.      Malu : malu hati, kesal.

            Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagi macam emosi itu mendorong individual untuk memberikan respon/ bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan, nafsu membimbing pemikiran, nilai dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu sering kali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengespresikannya (Goleman, 2002 : XVI). Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang dijalani menjadi sia-sia. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulut, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.
A.3. Biehler (1972) dalam (Sunarto, 2002:155) Membagi Ciri-ciri Emosional
        Remaja Menjadi Rentang Usia, yaitu usia 12-15 tahun dan 15-18 tahun.

Ø  Ciri-ciri Emosional Remaja Usia 1-15 Tahun
a.       Pada usia ini seorang anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka.
b.      Anak mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
c.       Ledakan-ledakan kemarahan mungkin saja terjadi.
d.      Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri karena kurangnya rasa percaya diri
e.       Remaja terutama siswa-siswa SLTP mulai mengamati orang tua dan guru mereka secara objektif.

Ø  Ciri-ciri Emosional Remaja Usia 15-18 Tahun
a.     “Pemberontakan” remaja merupakan pernyataan-pernyataan / ekspresi dari perubahan yang universaldari masa kanak-kanak ke dewasa.
b.      Karena bertambahnya usia mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka.
c.       Siswa pada usia ini sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka.

v  Ciri-ciri Perkembangan Emosi Remaja
o      Lebih mudah bergejolak dan biasanya diekspresikan dengan meledak-ledak
o      Kondisi emosipnal yang muncul tadi berlangsung lama, sampai akirnya kembali dalam keadaan semula.
o       Emosi yang muncul sudah bervariasi, bahkan sampai bercampur-baur antara dua emosi yang (sebenarnya) bertentangan, misalnya benci dan sayang dalam satu waktu.
o      Mulai muncul tertarikan dengan lawan jenis yang melibatkan emosi (sayang, cemburu, dsb.).
o    Mudah tersinggung dan merasa malu, karena umumnya sangat peka terhadap cara orang lain memandang kita. Tapi ini juga sangat tergantung dari perkembangan konsep diri kita.

A.4.a) Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi.
            Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi tergantung kepada factor kematangan dan faktor belajar. (Hurlock, 2002 : 154) kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lainnya dan mempengaruhi perkembangan emosi. Untuk mencapai kematangan emosi remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagaian oleh rasa aman dalam hubungan   social dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran”                   (Hurlock, 2002 : 213).
Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a.       Belajar dengan coba-coba
b.      Belajar dengan cara meniru
c.       Belajar dengan mempersamakan diri (learning by identification)
d.      Belajar melalui pengondisian
e.       Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan terbatas pada aspek reaksi (Sunarto, 2002 : 158)
Hubungan Antara Emosi dan Tingkah Laku Serta Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku.
            Rasa malu dan marah dapat menyebabkan seorang gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah, system pencernaan mungkin berubah selama permunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak enek mengganggu pencernaan.

b) Pengaruh Emosi
            Terhadap prilaku dan perubahan fisik dibawah ini adalah beberapa contoh tentang prilaku emosi terhadap prilaku individu, diantaranya sebagai berikut :
a.       Meperkuat semangat, apabila orang merasa senang / puas atas hasil yang tekah dicapai.
b.      Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan itu iyalah timbulnya rasa putus asa (frustasi)
c.       Menghanbat / menggagu kosentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bias juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gugup dalam berbicara.
d.      Terganggu penyesuaian social, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
e.       Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain (Yusuf, 2004 : 115)
Sedangkan perubahan Emosi terhadap perubahan Fisik (Jasmani) antara lain :
1.      Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona.
2.      Peredaran darah : bertambah cepat bila marah.
3.      Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut
4.      Pernapasan : bernapas panjang kalau kecewa.
5.      Pupil mata : membesarkan mata bila merah.
6.      Liur : mongering kalau takut / tegang.
7.      Bulu roma : berdiri kalau takut.
8.      Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang.
9.      Otot : ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor)
10.  Komposisi darah : komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif. (Sunanto, 2002 : 150)
Karakter Perkembangan Emosi
     Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana tegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginyan emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua masa remaja mengalami badai dan terkanan. Namun benar juga bila sebagaian remaja mengalami ketidaksetabilan dari waktu ke waktu. Sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri dari pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang sering dialami adalah cinta / kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dll. Perbedaan yang terlihat dalam macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya dan kususnya pola pengendali yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
a.       Cinta / kasih sayang
           Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kepastianya untuk mencintai orang lain dan kebutuhanya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberikan. Walaupun remaja bergerak kedunia pergaulan yang lebih luas dalam dirinya masih terdapat sifat kekanak-kanakannya. Remaja membutuhkan kasih sayang dirumah yang sama banyaknya dengan apa yang mreka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah sikap menentang mereka, menyalahkan mereka, secara langsung mengolok-ngolok mereka pada waktu pertama kali karena mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
b.      Gembira dan bahagia
           Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat / bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mendapat sambutan oleh yang dicintai. Perasaan bahagia ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap individu. Bahagia muncul karena remaja sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain / berasal dari terlepasnya energy emosional dari sistuasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.
c.       Kemarahan dan permusuhan
           Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam perkembangan kepribadian. Dalam memahami remaja ada empat factor yang sangat penting berhubungan dengan rasa marah.
1.      Adanya kenyataan kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dan menjadi dirinya sendiri. Selama masa remaja, fungsi marah terutama untuk melindungi hahnya untuk menjadi independent dan menjamin hubungan untara dua pihak orang lainyang berkuasa.
2.      Pertimbangan penting lainya adalah ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subyek kemarahan yang kemudian surut, tetapi mempunyai sikap dimana ada sisa-sisa kemarahandalam bentuk permusuhan meliputi kemarahan masa lalu. Remaja bukannya menampakkan kemarahan langsung tetapi remaja lebih menunjukkan keinginan yang sangat besar.
3.      Perasaan marah sengaja disembunyikan dan sering kali tampak dalam bentuk yang samar-samar. Bahkan seni dari cinta mungkin dipakai sebagai alat kemarahan.
4.      Kemarahan mungkin berbalik pada dirinya sendiri, aspek ini merupakan yang sangat penting dan juga sulit dipahami. (Sunarto, 2002 : 154)

d.      Ketakutan dan kecemasan
           Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan itu sendiri. Remaja seperti halnnya anak-anak dan orang dewasa, sering kali untuk berusaha mengatasi ketakutan yang timbul dari masalah kehidupan. Satu-satunya cara untuk menghindarkan dari rasa takut adalah menyerah terhadap rasa takut, seperti terjadi bila seseorang begitu takut sehingga ia tidak menentu. Rasa takut yang disebabkan otoriter orang tua menyebabkakn anak tidak berkembang daya kreatifnya dan menjadi orang yang penakut, apatis dan penggugup. Selanjutnya sikap apatis mengakibatkan anak menjadi pendiam, memencilkan diri, tak sanggup bergaul dengan orang lain. (Willis, 2005:57)
e.       Frustasi dan duka cita
           Frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatandalam menemukan kebutuhanya, terutama hambatan-hambatan tersebut munculdari dirinya sendiri. Konsekuensinya dapat menimbulkan perasaan rendah diri. Duka cita merupakan perasaan galau / depresi yang tidak terlalu berat, tetapi mengganggu individu. Kalau dialami dalam waktu yang panjang dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik dan psikis yang cukup serius hingga depresi.

A.5.a)  Cara Mengendalikan Emosi
a.       Berusaha mengendalikan dan mengarahkan kea rah yang positif.
b.      Setiap tindakan harus didasarkan pada akal sehat.
c.       Berpikirlah tentang akibat yang mungkin terjadi
d.      Berusaha untuk memanfaatkan orang lain

b)  Cara Mengendalikan Emosi / Menghindari beban Emosi
·         Kita harus belajar menghadapi segala situasi itu dengan sikap rasional.
·         Kita juga harus menghindari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat mengakibatkan emosional-emosional. Kalau mengalami sesuatu yang bikin marah / sedih, jangan kebawa emosi dulu.
·         Memberikan respun terhadap situasi dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan, proposional sesuai dengan keadaanya, dengan cara yang bias diterima lingkungan social kita.
·         Mengemukakan emosi positif kita (senang, bahagia, sayang) dan juga yang negatif (sebel, sedih, marah) secara benar dan proporsional.

Pendidikan Agama Remaja
           Pendidikan merupakan usaha sadar yang terencana, terprogram dan berkesinambungan  membantu peserta didik mengembangkan kemampuanya secara optimal, baik aspek konitif, aspek efektif maupun espek psikimotorik. Aspek kognitif yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analiosis, sintetis dan evaluasi. Aspek evektif berkenaan dengan sifat yang terdiri lima aspek yakni : penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Aspek pisikomotorik berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek, yaitu : gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, kerhamonisan atau ketepatan, gerakan ketrampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatife.
           Sejalan dengan pencapaian tujuan pendidikan, perlu diupayakan suatu system pendidikan yang mampu membentuk kepribadian dan ketrampilan peserta didik yang unggul, yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia yang kreatif, cakap, terampil, jujur, dapat dipercaya, disiplin, bertanggung jawawb dan memiliki solidaritas yang tinggi. Untuk mewujudkan manusia yang unggul perlu diberikan landasan pendidikan yang kokoh. Oleh karena itulah kebutuhan dasar siswa harus dipenuhi lebih dahulu, yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan atas rasa kasih sayang, dan kebutuhan akan harga diri. Bangsa kita sebenarnya telah memiliki pilar pendidikan yang sangat fundamental, yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantoro, Ing Ngarso Sun Tulodho, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani, namun implementasinya dalam pendidikan kita masih rendah. Empat pilar pendidikan yang dijadikan pondasi pendidikan pada era informasi dan jaringan global ini dalam meraih dan merebut pasar internasional.

Keempat pilar tersebut adalah :
1.      Learning to Know (Belajar untuk Tahu)
Pada proses pembelajaran melalui penerapan paradigma ini, peserta didik akan dapat memahami dan menghayati bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh dari fenomena yang terdapat dalam lingkunganya. Untuk mengondisikan masarakat belajar yang efektif dewasa ini, diperlukan pemahaman yang jelas tentang “apa” yang perlu diketahui, “bagaimana” mendapatkan ilmu pengetahuan, “mengapa” ilmu pengetahuan perlu diketahui, “untuk apa” dan “siapa” yang akan menggunakan ilmu pengetahuan itu. Belajar untuk tahu diarahkan pada peserta didik agar mereka memiliki pengetahuan fleksibel, adaptable, value added dan siap memakai bukan siap pakai. Sebab, salah satu ukuran luar dapat dipakai untuk melihat sejauh mana tingkat kemajuandiskursus suatu disiplin ilmu adalah dengan melihat upaya-upaya dan hasil diskursus mengenai disiplin tersebut.
2.      Learning to Do (Belajar untuk Melakukan)
Proses pembelajaran dengan penekanan agar peserta didik menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang bermakna “active learning”. Peserta didik memperoleh kesempatan belajar dan berlatih untuk dapat menguasai dan memiliki standar kopetensi dasar yang dipersaratkan dalam dirinya. Proses pembelajaran yang dilakukan menggalli dan menemukan informasi (information searching and exploring), mengolah informasi dan mengambil keputusan (information processing and decision making skill), serta memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skill). Menurut John Dewey bahwa pembelajaran yang dapat dilakukan dengan : 1). Belajar peserta didik dengan berpikir kreatif, 2). Keterampilan proses, 3). Problem solving approach, 4). Pendekatan inkuiri, 5). Program sekolah yang harus terpadu dengan kehidupan masyarakat, dan 6). Bimbingan sebagai bagian dari mengajar. Beberapa bentuk Active Learning ; Kegiatan Active Learning dilakukan dengan kegiatan mandiri, peserta didik membaca sendiri bahan yang akan dibahas di kelas.
3.      Learning to be (Belajar untuk Menjadi Diri Sendiri)
Proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik dengan sikap mandiri. Kemandirian belajar merupakan kunci terbentuknya rasa tanggung  jawab dan kepercayaan diri untuk berkembang secara mandiri. Sikap percaya diri akan lahir dari pemahaman dan pengenalan diri secara tepat. Belajar mandiri harus didorong melalui penumbuhan motifasi diri. Banyak pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan dalam melatih kemandirian peserta didik, misalnya ; pendekatan sinektik, problem soving, ketrampilan proses, discovery, inquiry, kooperatif dan sebagainya pendekatan pembelajaran tersebut mengutamakan keterlibatan peserta didik secara efektif.  Pendekatan-pendekatan pembelajaran ini pada dasarnya suatu proses social, peserta didik dibantu dalam melakukan peran sebagai pengaman yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Meskipun guru dapat memberikan situasi masalah, namun dalam penerapanya, peserta didik mencari, menanyakan, memeriksa dan berusaha menemukan sendiri hal-hal yang dipelajari. Para peserta didik mulai berpikir berdasarkan kemampuan dan pengalamanya masing-masing secara logis. Setrategi pembelajaran inkuiri merupakan salah satu alternative pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. 
4.      Learning to Live Together  (Belajar untuk Hidup Bersama)
Proses pembelajarn yang memungkinkan peserta didik menghayatihubungan antar manusia secara intensif dan terus-menerus untuk menghindarkan pertentangan ras/etnis, agama, suku, keyakinan politik, dan kepentingan ekonomi. Peningkatan pendidikan nilai kemanusiaan, moral, dan agama yang melandasi hubungan antar manusia.
       Untuk mewujudkan makna pendidikan dan pondasi pembelajaran yang terintegrasikanya nilai-nilai kemanusiaandalam kepribadian dan prilaku selama proses pembelajaran diperlukan proses pembelajaran yang efektif. Keefektifan proses pembelajaran merupakan pencerminan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Keefektifan proses pembelajaran berkenaan dengan jalan, upaya, teknik dansetrategi yang digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran secara optimal, tepat dan cepat (Nana Sudjana, 1996 : 52). Sekolah tidak hanya berkewajiban untuk memelihara nilai-nilai masyarakat, namun juga harus memberikan keefektifan kepada peserta didik dan secara kritis dalam menghadapi masalah-masalah social, dan harus mengadakan usaha pemecahan masalah.
         Salah satu factor yang mempengaruhi keefektifan pembelajaran antara lain kemampuan guru dalam menggunakan setrategi. Penerapan setrategi pembelajaran dipengaruhi oleh factor tujuan, peserta didik, situasi fasilitas dan pembelajaran itu sendiri. Dengan menerapkan metode yang tepat, proses pembelajaran akan berlangsung lebih efektif sehingga hasil pembelajaran akan lebih baik dan mantap. Salah satu strategi pembelajaran yang memberikan perhatian pengembangan potensi peserta didik dalam strategi ketrampilan proses (proses pemecahan masalah).


PENUTUP

1.      Kesimpulan
Emosi merupakan suatu yang kompleks dalam diri manusia, yaitu keadaan yang menunjukkan pengalaman dan perbuatan dalam suatu pristiwa yang berlaku seperti peristiwa takut, marah, kecewa, gembira, suka dan duka.
Emosi yang kuat dapat membuat apa yang disampaikan pada kita tidak dapat diterima otak dengan baik hingga dapat pula terjadi salah informasi. Emosi yang kuat dapat dijadikan sebagai faktoar pendukung atau penyemangat yang kuat pada diri sendiri apabila dapat mengarahkannya dengan baik, dapat pula sebagai pendorong yang kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dan apa yang dicita-citakan.

2.      Saran
Setelah kita membahas tentang pengertian emosi, macam-macam emosi dan pengendaliannya, kita dapat mengetahui dan memehami tentang emosi. Sehingga sebagai remaja kita harus menjaga dan memelihara emosi yang ada pada diri kita.

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, Sarlito W. 1991. Pisikoloi Remaja. Jakarta : Rajawali Press.
Hurlock, B. 1990. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia.
http : //www.riyawan.com dan http : //mswikipedia.org/wiki/remaja



2 komentar: